Setelah melewati malam yang melelahkan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan lagi.

Perjalanan mereka pagi itu dimulai dengan ketegangan yang tak terucap. Lynx, seperti biasa, berada di depan, menghapus jejak langkah kaki di tanah basah dan menutupi jejak lainnya dengan ranting dan dedaunan. Leena mengikuti di tengah, sementara Sherly berada paling belakang, terus mengeluh.

"Aku tidak paham kenapa kita harus repot-repot menghapus jejak ini," kata Sherly sambil menyeret langkahnya. "Bukankah lebih baik kita mempercepat perjalanan? Mereka akan tetap menemukan kita kalau mereka cukup gigih."

Lynx berhenti, menoleh dengan ekspresi datar. "Kalau kau ingin kita mati lebih cepat, katakan saja."

Leena tertawa kecil, mencoba meredakan ketegangan. "Lynx benar. Kita tidak tahu seberapa dekat mereka, jadi lebih baik hati-hati."

Sherly melirik tajam ke arah Leena, lalu mendekati Lynx dengan langkah kecil, sedikit menunduk agar tampak lebih rapuh. "Aku hanya berpikir, mungkin kita tidak perlu terlalu paranoid. Lynx, kau sudah sangat hebat menjaga kami. Aku yakin mereka tidak akan bisa mengejarmu."

Lynx tidak menanggapi, hanya melanjutkan membersihkan jejak. Leena memutar bola matanya tetapi tetap diam, menyadari bahwa ini bukan pertama kalinya Sherly mencoba mengambil perhatian Lynx.

Saat mereka melanjutkan perjalanan, Sherly mendekat lebih jauh ke Lynx. "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan tanpa kau, Lynx," katanya dengan nada manja. "Kau benar-benar pelindung kami."

"Aku melindungi kalian berdua," jawab Lynx singkat.

Sherly tersenyum tipis. "Tentu saja," katanya sambil melirik Leena sekilas. "Tapi aku merasa kau selalu lebih perhatian padaku."

Leena, yang mendengar itu, menghentikan langkahnya. "Sherly, kita semua berada di situasi yang sama. Jangan mulai berlebihan."

"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan," jawab Sherly dengan nada polos. "Bukankah itu wajar?"

Menjelang sore hari keempat, mereka tiba di depan sebuah gua besar. Lynx memimpin mereka masuk dengan hati-hati, mengamati setiap sudut gua. Di atas, ratusan kelelawar bergelantungan, menciptakan suara gemerisik kecil di udara.

"Bau apa ini?" Sherly bertanya, menutup hidungnya.

"Kotoran kelelawar," jawab Lynx singkat. Dia menunduk, memperhatikan sebuah lubang besar di lantai gua yang penuh dengan ular melingkar.

Leena terengah-engah, mundur beberapa langkah. "Lynx, kau tidak serius. Kita tidak mungkin tinggal di sini. Ada ular!"

Sherly juga mundur, tetapi dengan gaya yang lebih dramatis. Dia langsung memegangi lengannya dan bersandar ke bahu Lynx. "Lynx, aku tidak bisa tinggal di sini. Tolong... kita cari tempat lain."

Lynx memisahkan dirinya dari Sherly dengan perlahan. "Tenang. Aku punya cara untuk membuat mereka pergi."

Dia mengambil botol kecil berisi aroma khusus dari tasnya. Dengan hati-hati, dia menuangkan cairan itu di sekitar lubang. Bau menyengat segera menyebar ke seluruh gua.

"Apa itu?" tanya Leena, melirik botol di tangan Lynx.

"Ini cairan yang pernah menyelamatkan kita waktu dikejar ular besar saat kita ke barat pulau," Kata Lynx mengingatkan.

Leena teringat bagaimana ketika dia sedang perjalanan menuju gua di bagian barat pulau, mereka dikejar ular besar, namun tiba-tiba ular tersebut berbalik dan pergi. Mereka melihat cairan yang tumpah saat mereka berlari menjadi penyebabnya.

Benar saja, ular-ular mulai bergerak, sebagian melata lebih dalam ke gua, sementara yang lain keluar mencari tempat lain. Sherly yang sebelumnya berpegangan pada dinding langsung mendekat lagi ke Lynx.

"Lynx, kau benar-benar luar biasa," katanya dengan senyum manis. "Kau selalu tahu apa yang harus dilakukan, Lynx. Aku tidak tahu bagaimana kami bisa terus berjalan tanpamu."

Lynx hanya mengangguk kecil, tetapi Leena mengamati Sherly dengan ekspresi curiga.

"Kalau sudah selesai, ayo kita bersihkan gua ini," kata Lynx akhirnya.

Leena dan Sherly mulai membantu, tetapi Sherly terus mendekati Lynx, menawarkan bantuan bahkan untuk tugas-tugas kecil.

"Aku bisa membantumu mengumpulkan ranting, Lynx. Leena mungkin butuh waktu lebih lama karena dia terlalu pelan," ujar Sherly sambil tersenyum manis ke arah Leena.

Leena mendengus. "Aku baik-baik saja sendiri, terima kasih."

Sherly mengangkat bahu, berpura-pura tak peduli, tetapi ada senyum tipis di bibirnya yang membuat Leena semakin jengkel.

Setelah gua cukup bersih dan sudah membuat tempat untuk tidur, Leena mulai memasak daging hasil buruan Lynx. Aroma daging rebus dan gorengan memenuhi gua, membuat perut mereka keroncongan.

Sherly duduk di samping Lynx, memperhatikan setiap gerakannya dengan mata berbinar. "Lynx, kau ingin aku mengambilkan sesuatu? Atau mungkin membantumu mengasah pisau itu?"

Lynx menggeleng tanpa berkata-kata, tetapi Sherly tidak berhenti. "Aku tahu kau pasti lelah. Kalau ada sesuatu yang perlu kau lakukan, aku bisa mengurusnya."

"Yang perlu dilakukan sekarang adalah makan," kata Leena, menyela. Dia meletakkan panci di tengah, memberi mereka masing-masing porsi daging.

Sherly mencicipi makanannya dan mendesah puas. "Ini enak sekali, Leena," katanya, tetapi kemudian menambahkan, "Mungkin kalau Lynx yang memasak, rasanya akan lebih sempurna."

Leena menghentikan suapannya sejenak. "Apa maksudmu?"

"Oh, tidak ada. Hanya bercanda." Sherly tersenyum kecil, tetapi matanya menatap Lynx dengan intensitas yang membuat Leena merasa semakin tidak nyaman.

Setelah makan, Lynx terlihat sangat lelah. Leena dan Sherly memutuskan untuk berjaga bergantian agar Lynx bisa tidur lebih awal.

"Kau harus istirahat," kata Sherly sambil menyentuh bahu Lynx. "Agar kamu punya tenaga untuk menolong kami nanti."

Leena memperhatikan itu dengan alis terangkat, tetapi tidak berkata apa-apa. Lynx mengangguk, terlalu lelah untuk berdebat, lalu dia pergi berbaring.

"Sherly, aku kira kamu sudah berubah. Kenapa kamu bersikap seperti itu lagi kepada Lynx?" Tanya Leena.

"Apa yang aku lakukan? aku tidak melakukan apapun terhadap Lynx," jawab Sherly sambil mengangkat kedua lengannya ke atas.

"Jangan kamu pikir aku tidak mengetahui, kamu selama ini sengaja mencari-cari perhatian Lynx." Kata Leena dengan kesal.

"Aku hanya ingin berterimakasih kepada Lynx. Dia sudah menyelamatkanku. Jadi bukan urusanmu ya mengenai apa yang aku lakukan." Jawab Sherly dengan cuek.

Leena yang tidak ingin bertambah emosi, memilih diam tidak ingin melanjutkan. Mereka berdua duduk diam disamping api unggun.

Sherly yang sedang duduk melamun, memikirkan cara untuk menyingkirkan Leena. "Aku tidak akan membiarkanmu merusak rencanaku Leena. Aku akan mencari cara untuk menyingkirkanmu, agar Lynx bisa dibawah kendaliku."

Sherly mengandalkan Lynx sebagai satu-satunya jaminan kelangsungan hidupnya di pulau yang penuh bahaya ini. Lynx adalah sosok yang sangat penting bagi Sherly, bukan hanya karena keahliannya dalam berburu, membuat jebakan, dan memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga karena Lynx merupakan pelindung yang tak tergantikan.

Menyadari keterbatasan dirinya sendiri, Sherly berusaha mempengaruhi emosi Lynx agar sepenuhnya berpihak padanya. Dengan berpura-pura rentan, takut, dan membutuhkan bantuan, Sherly berharap dapat mengikat Lynx secara emosional dan membuatnya merasa bertanggung jawab atas keselamatannya.

Namun, keberadaan Leena menjadi penghalang besar bagi rencana Sherly. Leena, dengan hubungan emosional yang kuat dengan Lynx, sering menjadi sumber kekuatan moral dan dorongan bagi Lynx, membuat Sherly kesulitan untuk mendominasi situasi. Oleh karena itu, Sherly berusaha menyingkirkan Leena, baik secara fisik maupun emosional, untuk memastikan tidak ada lagi kompetisi dalam hubungan mereka bertiga.

Pada akhirnya, Sherly memandang Lynx sebagai senjata dan perlindungan yang tidak boleh jatuh ke tangan orang lain, terutama Leena. Dengan menyingkirkan Leena, Sherly berharap dapat sepenuhnya menguasai Lynx dan memanfaatkan kekuatan fisik serta keahlian bertahan hidupnya demi menjamin kelangsungan hidupnya di pulau tersebut.

Beberapa jam kemudian, Leena memecah kesunyian dengan mengajak Sherly bergantian berjaga agar mereka tidak terlalu lelah. Leena meminta Sherly tidur duluan agar nantinya bisa menggantikan dirinya berjaga.

"Aku tidak mengantuk. Kamu saja yang tidur duluan." Jawab Sherly dengan malas. Dia sedang memikirkan banyak rencana kedepannya, bagaimana bisa mendapatkan harta karun serta mendapatkan Lynx. Kondisi di pulau itu memaksanya harus segera mendapatkan Lynx agar kehidupannya terjamin.

Leena menyetujuinya dan segera beranjak istirahat di dekat Lynx. Leena melihat Lynx yang tertidur sangat lelah, bergerak pelan-pelan tidak ingin mengganggu istirahatnya. Namun Lynx yang selalu waspada, merasakan ada yang bergerak didekatnya langsung membuka mata. Dia melihat sosok Leena sedang memposisikan dirinya untuk berbaring, sementara itu dia melihat Sherly sedang duduk didekat api unggun dengan posisi memunggunginya. Tidak lama, Lynx kembali tertidur.

"Lynx, kamu terlihat sangat lelah. Terimakasih karena kamu selalu melindungiku selama ini," kata Leena didalam hati sambil memandangi wajah lelah Lynx sebelum akhirnya dia tertidur.

Sekitar tengah malam, Leena terbangun dan menggantikan posisi Sherly untuk berjaga. "Sherly, kamu istirahatlah. Aku akan bergantian berjaga."

Sherly sambil menguap segera bergerak menuju samping Lynx. Dia memandangi Lynx dan sebuah ide melintas dipikirannya.

Lynx terbangun karena merasakan seseorang memeluknya. Dalam cahaya redup api unggun, dia melihat Sherly duduk di dekat api, memeluk lututnya.

Karena sebelumnya dia melihat Leena disampingnya, dia mengira yang memeluknya adalah Leena, jadi dia tersenyum kecil dan memeluk balik. Ketika bibirnya terasa dicium, Lynx membalas ciuman itu dengan lembut, tenggelam dalam kehangatan kemesraan.

Selama ini, tumbuh rasa sayang Lynx terhadap Leena dan rasa ingin selalu melindunginya. Mendapatkan perlakuan Leena yang mencium dirinya, Lynx terhanyut menikmatinya.

Sherly dapat merasakan bagian bawah Lynx terbangun dan terasa sangat keras menyentuh paha Sherly.  Sherly yang senang karena Lynx meresponnya, melanjutkan aksinya untuk membuat Lynx menyukainya.

Sherly mengambil tangan Lynx dan mengarahkan telapak tangannya Lynx menyentuh bukit kembarnya.

Lynx yang menikmati sensasi ciuman, serta menahan nafsu selama ini tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Dia merasa akhirnya bisa merasakan kehangatan tubuh Leena.

Lynx meremas-remas kedua bukit kembar Sherly bergantian, sambil kedua lidah mereka saling bermain.

Lynx meraba-raba, mengelus seluruh tubuh Sherly dan menyentuh bagian intimnya. Lynx dapat merasakan bagian intim yang disentuhnya terasa sangat basah sehingga bagian bawahnya semakin mengeras.

"Leena, aku sangat mencintaimu. Aku akan bertanggungjawab dan menjagamu selamanya," kata Lynx didalam hati sambil terus menikmati ciuman mereka yang semakin intens. Efek kelelahan setelah melawan Monrest, membuat Lynx merasa lebih rileks dan  belum menyadari sosok yang sedang bersamanya adalah Sherly.

Suasana dingin dan cahaya api yang redup ikut menambah gairah mereka saat itu.  Sherly merasa tubuhnya semakin panas. Dia sangat  menikmati sentuhan tangan Lynx di bagian intimnya. Dia merasakan nafsu yang selama ini ditahannya akhirnya bisa tersalurkan.

Sherly lalu melepaskan ciuman dibibir dan bergerak menciumi leher Lynx, dan terus bergerak semakin ke bawah menciumi tubuhnya.

Lynx yang tidak berpengalaman dan belum pernah melakukannya hanya memejamkan mata menahan sensasi yang baru kali ini dia rasakan. Dia bertahan agar tidak bersuara karena tidak ingin apa yang mereka lakukan ketahuan oleh Sherly -- yang menurutnya sedang duduk didekat api unggun.

Sherly yang merasakan Lynx menikmatinya semakin turun kebawah dan memegang bagian intim Lynx yang sedang berdiri dengan tegang lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Lynx yang tidak menduga, merasa terkejut dengan rasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dia langsung membuka matanya, rasa penasaran membuatnya ingin melihat apa yang sebenarnya di lakukan Leena.

Namun, saat membuka matanya, dia melihat Sherly, bukan Leena, yang sedang bersamanya.

"Sherly!" teriaknya, mendorong gadis itu menjauh.

Leena, yang sedang duduk melamun sambil berjaga merasa kaget dan langsung berdiri ke tempat mereka. Matanya membulat ketika melihat posisi Lynx dan Sherly yang ambigu. Dimana bagian intim Lynx masih terlihat dan Sherly berada di antara kaki Lynx.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya tajam.

"Ini... tidak seperti yang kau pikirkan!" Lynx mencoba menjelaskan, tetapi Leena sudah berdiri, wajahnya penuh amarah.

Sherly buru-buru menunduk, berpura-pura menangis. "Maaf... aku hanya terbawa suasana... aku tidak tahu harus bagaimana."

Leena memalingkan wajah, mengambil selimutnya, dan berbaring membelakangi mereka. Air matanya mengalir pelan.

"Leena, tunggu!" Lynx bangkit, tetapi Leena mengangkat tangannya.

"Jangan bicara padaku," katanya dingin.

Selama beberapa hari berikutnya, Leena menghindari Lynx. Dia hanya berbicara jika benar-benar diperlukan. Di sisi lain, Sherly semakin sering mendekati Lynx dengan berbagai alasan.

"Lynx, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak punya niat buruk, aku hanya ingin berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkanku. Aku ingin membuatmu bahagia ," katanya suatu malam, suaranya penuh kepura-puraan.

Lynx menghela napas panjang. "Kita tidak bisa terus seperti ini. Kau tahu, apa yang kita lakukan salah dan sekarang Leena salah paham."

"Kenapa kamu selalu membawa nama Leena? Seharusnya dia paham kalau apa yang kita lakukan itu adalah hal wajar suka sama suka." Kata Sherly dengan marah.

Sherly lalu duduk dan memeluk dirinya sendiri, memasang ekspresi sedih. "Aku tidak tahu kenapa Leena begitu marah hanya karena hal itu. Tapi aku merasa dia selalu mencari-cari kesalahanku. Dia mungkin memang tidak suka aku ada disini."

"Leena tidak seperti itu," jawab Lynx tegas.

"Tapi kau tidak melihat bagaimana dia memandangku. Aku tahu dia tidak percaya padaku," Sherly menambahkan, memasang wajah tersiksa.

Di sisi lain, Sherly juga memfitnah Leena secara diam-diam. Ketika mereka sedang berburu bersama, Sherly selalu mengeluh tentang sikap Leena yang seolah ingin dia pergi.

Namun, Leena mulai sadar bahwa Sherly sering bicara buruk tentang dirinya. Saat Lynx pergi mencari jebakan, Leena mendekati Sherly dengan wajah dingin.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Leena tajam.

"Aku tidak tahu apa maksudmu," jawab Sherly sambil tersenyum manis.

"Aku tahu kau mencoba menjauhkan Lynx dariku. Tapi aku tidak akan diam saja."

Sherly mendekat, wajahnya berubah menjadi sinis. "Kau pikir dia akan memilihmu? Pada akhirnya dia akan memilihku."

Leena mengepalkan tangannya tetapi memilih pergi, meninggalkan Sherly yang tersenyum puas di belakangnya. Ketegangan di antara mereka semakin terasa, tetapi Lynx tetap tidak menyadari permainan licik Sherly sepenuhnya.

Suara api unggun yang berderak mengisi keheningan gua. Leena duduk di sudut dengan selimut membungkus tubuhnya, berusaha menjauh dari Lynx dan Sherly. Sherly duduk tak jauh dari Lynx, sementara pria itu memutar pisau kecil di tangannya, wajahnya tampak tegang.

Setelah beberapa saat, Lynx menghela napas panjang dan akhirnya membuka suara. "Leena, aku ingin bicara." Suaranya berat, tapi lembut, seolah mencoba menembus tembok yang telah Leena bangun.

Leena tidak langsung menoleh, tetapi Lynx melanjutkan. "Apa yang terjadi sebelumnya... Aku benar-benar tidak sadar. Aku saat itu sedang tertidur dan belum menyadari apa yang terjadi." Dia menatap api dengan tatapan suram. "Aku bahkan tidak tahu Sherly berada di situ. Aku sebelumnya sempat terbangun dan melihat kau sedang tertidur."

Leena meliriknya dari balik selimut, matanya penuh emosi campur aduk. Dia tidak tahu apakah harus percaya, tetapi suara Lynx terdengar tulus. Lynx melanjutkan, suaranya hampir berbisik.

"Aku... aku tidak menduga hal seperti itu bisa terjadi," katanya, berusaha meyakinkan. "Aku sungguh-sungguh meminta maaf, dan tidak ingin kamu marah seperti ini." Dia menghela napas berat lagi, lalu menambahkan, "Aku janji, itu tidak akan pernah terjadi lagi."

Sherly, yang mendengar itu, mengepalkan tangan di balik lututnya. Wajahnya gelap saat mendengar permintaan maaf Lynx yang sepenuhnya terfokus pada Leena. Dia mencoba tersenyum untuk menyembunyikan amarahnya, tetapi hatinya berkecamuk.

Lynx bergumam pelan, hampir tidak terdengar, "Aku pikir itu Leena... Aku tidak tahu kalau ternyata Sherly..." Kata-katanya terdengar seperti gumaman, seolah-olah dia berbicara dengan dirinya sendiri, tetapi Leena, yang duduk tidak terlalu jauh, mendengarnya.

Pipinya memerah. Kata-kata Lynx terasa seperti panah yang langsung mengenai hatinya. Dia memalingkan wajah, berharap Lynx tidak melihat rona merah di pipinya. Dengan cepat, dia bangkit dan berjalan menuju sudut gua yang lebih gelap. "Aku akan mengecek persediaan," katanya gugup, mencoba menyembunyikan perasaannya.

Lynx menatapnya dengan bingung. "Leena, aku—"

"Tidak apa-apa," potong Leena cepat tanpa menoleh. "Kita bicarakan nanti."

Saat berada di sudut gua, jauh dari pandangan mereka, Leena menyentuh wajahnya yang panas. Senyuman kecil muncul di bibirnya. "Jadi dia pikir aku..." gumamnya, hati kecilnya melompat penuh kebahagiaan.

Namun, suasana di dekat api tidak secerah perasaan Leena. Sherly semakin kesal melihat upaya Lynx meminta maaf. Baginya, Lynx seharusnya menerima kenyataan tanpa terus menyalahkan dirinya sendiri. Namun, semua perhatian Lynx justru terarah pada Leena.

"Lynx," Sherly memecah keheningan dengan suara lembut, "Kau tidak perlu terlalu memaksakan dirimu untuk meminta maaf. Leena yang seharusnya lebih mengerti. Aku tidak keberatan dengan apa yang terjadi."

Lynx menoleh ke arah Sherly, alisnya mengernyit. "Sherly, aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun, termasuk kau. Tapi apa yang terjadi tadi salah, dan aku harus memperbaikinya."

Sherly memaksakan senyuman, tetapi matanya menunjukkan perasaan sebal. "Kau selalu peduli pada perasaannya," gumamnya dengan nada lirih, tetapi cukup keras untuk didengar Lynx.
